Tamansari Jogja Membaca Sejarah Raja

Berwisata sambil mengenang sejarah pastinya memberi pengalaman dan pengetahuan yang banyak. Sejarah masa kerajaan dengan mengeksplor istananya, pusaka-pusakanya, tempat favorit raja dan keluarga kraton. Wisata sejarah ini ibarat kita melihat kisah para keluarga kerajaan pada masa lalu. Berwisata sejarah ke Jogja, selain kraton, taman Taman Sari tentu  tidak pernah terlewatkan untuk dikunjungi. Tamansari yang dijuluki water castle ini  menjadi kawasan cagar budaya yang dilindungi.

Tamansari dapat diartikan taman yang indah. Tempat ini pada dahulu merupakan sebuah taman atau kebun istana Keraton Yogyakarta. Julukan Water Castle yang disematkan pada Taman sari ini dikarenakan adanya kolam-kolam dan unsur air yang mengelilinginya. Taman sari juga dsebut sebagai The Fragrant Garden karena dulu terdapat pohon-pohon dan bunga-bunga yang harum ditanam di kebun-kebun sekitar bangunan. Tamansari memiliki desain yang eksotis. Dengan luas lebih dari 10 hektar yang didalamnya memiliki 57 bangunan. Bangunan yang terdiri dari gedung, kolam pemandian, jembatan gantung, kanal air, danau buatan, pulau buatan, masjid, dan lorong bawah tanah.

Tamansari Jogja

Wajah Tamansari dulu dan kini

Mari sedikit kita mengulik sejarah dari taman sari. Keberadaannya, fungsinya, dll. Dengan membaca sejarah dan melihat lagi bagian-bagian dari taman sari kita seolah dibawa menuju masa lampau. Taman Sari dibangun pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono I. Sri Sultan HB I sendirilah yang menggagas ide bangunan Tamansari. Diarsiteki oleh seorang yang berkebangsaan Inggris, dikenal dengan mama Demang Tegis.  Nama Tegis, menurut sejarah, kemungkinan besar bersumber dari kebangsaan dari Demang Tegis. Bertindak sebagai pimpinan proyek pembagunan adalah Tumenggung Mangundipuro yang kemudian digantikan oleh Pangeran Notokusumo.

Pembagunan dilakulan secara bertahap. Dimulai tepatnya pada tahun 1758 M atau tahun 1684 Jawa. Hal ini diketahui dengan adanya candra sengkala “Catur Naga Rasa Tunggal” yang menunjuk tahun 1684 Jawa. Sengkalan ini dapat ditemukan di Gapura Panggung komplek taman sari. Bagian penting dari kompleks bangunan diselesaikan pada tahun 1765 M atau tahun 1691 Jawa. Hal ini ditandai dengan candra sengkala “Lajering Sekar Sinesep Peksi” yang menunjuk tahun 1691 Jawa. Sengkalanini dapat ditemui di Gapura Agung dan ornamen beberapa dinding bangunan.

Komplek taman sari mengalami beberapa perubahan. Pada awalnya bangunan Pesanggrahan Tamansari menghadap ke barat, sehingga lorong bagian depan (gledegan) terletak di sebelah selatan Plengkung Jagabaya (Plengkung Tamansari). Adapun segarannya memiliki lorong depan lurus ke utara sampai di Plengkung Jagasura (Plengkung Ngasem). Semenjak menjadi tempat wisata, pintu masuk ke kompleks ini berubah ke arah timur menggunakan pintu yang dahulunya merupakan pintu belakang.

Masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VI, tahun 1867 terjadi peristiwa gempa besar. Gempa ini meruntuhkan bangunan-bangunan di Yogyakarta. Kerusakan cukup parah terjadi pada bangunan Tamansari ini. Bangunan Tamansari menjadi terbengkalai. Menyebabkan banyak penduduk membangun hunian di antara kebun dan puing bangunan. Dimulai tahun 1977, Tamansari mulai direnovasi secara serius.  Bangunannya ada yang tertimbun kemudian dibongkar. Hanya sedikit sekali bagian dari bangunan Tamansari yang bisa diselamatkan. 

Lalu pada tahun 2006, terjadi gempa di Jogja. Gempa tektonik yang berkekuatan 5,9 SR telah

menyebabkan kerusakan di beberapa bagian Tamansari. Pemerintah setempat kemudian merenovasi dan merevitalisasi kembali. Bangunan-bangunan yang rusak diperbaiki, diperkuat, dan dicat ulang. Tamansari kini dipoles sedemikian rupa hingga bisa mendapat perhatian wisatawan.  Walaupun berhimpitan dengan rumah-rumah penduduk sisa-sisanya kemegahan Tamansari tidak pernah pudar. Terbukti tamansari tetap menarik untuk dikunjungi wisatawan. Banyak yang ingin menikmati kemegahan taman keluarga raja pada masa lalu ini. Dan tentunya menikmati desain Tamansari dengan memotret setiap sisi taman.

Ada Manfaat Disetiap Bangunan

Di dalam komplek Tamansari ini terdapat beberapa bagian yang masing masing memiliki fungsi sendiri. Selain sebagai tempat rekreasi, Tamansari juga memiliki fungsi pertahanan dan fungsi religi.

1. Fungsi pertahanan.

Tembok tebal dan tinggi yang mengelilingi area Taman sari. Pintu gerbang yang terdapat tempat jaga. Terdapat bastion atau tolak bala berfungsi untuk meletakkan persenjataan. Terdapat pula jalan bawah tanah seperti lorong yang menghubungkan satu tempat ke tempat lain. Sebuah bangunan tinggi yang difungsikan sebagai gardu pengintai jika ada musuh datang. Bangunan Inilah dinamakan pulo kenanga, yang berfungsi sebagai pertahanan.

2.Fungsi  Religi.

Sumur gumuling dan pulo panembung, merupakan bangunan yang difungsikan sebagai tempat tetirah. Bangunan ini berada di tengah kolam Segaran, menyembul di tengah bentangan air yang luas. Sumur Gumuling yang berbentuk melingkar difungsikan sebagai masjid. Sumur Gumuling juga berfungsi sebagai bunker. Jika terjadi serangan yang membahayakan maka sultan dan keluarga beelindung di dalam Sumur gumuling ini. Sedang Pulo Panembung digunakan oleh Sultan sebagai tempat untuk bermeditasi. Bangunan Inilah yang merupakan fungsi religi dari Taman sari.

3.Fungsi Rekreasi

Dari namanya saja sudah menggambarkan bahwa Tamansari sebagai tempat rekreasi. Dengan desain yang sedemikian rupa. Sehingga Tamansari dulunya merupakan sebuah tempat yang dapat me-refresh pikiran. Hal ini dapat dilihat dari desain Tamansari sendiri. Taman ini didirikan di atas sebuah umbul atau mata air yang dikenal dengan nama Umbul Pacethokan. Terdapat dua buah danau buatan. Danau buatan ini diberi nama segaran. Kata segaran berasal dari kata segara yang berarti lautan. Dua segaran atau danau buatan ada yang berada di sisi timur dan satu di sisi barat. Segaran ini berada di sisi timur dengan pulau buatan di tengahnya yang bernama Pulo Gedhong. Satu berada di sisi barat dengan pulau buatan di tengahnya yang bernama Pulo Kenanga. Kedua segaran ini dihubungkan dengan sebuah kanal yang memotong lorong penghubung Plataran Magangan dan Plataran Kamandhungan Kidul. Ada sebuah kebun yang mengapit kanal tersebut. Dahulu taman ini berisi aneka tanaman buah yang tumbuh rimbun.

Daya Tarik Tamansari

Berwisata tanpa berfoto pasti tidaklah lengkap. Mengunjungi Tamansari ini banyak bagian-bagian yang dijadikan spot foto instagramable. Semua detail bangunannya selalu menarik untuk dijadikan latar foto. Mengeksplore, menyusuri setiap bangunan-bangunan Tamansari sambil berfoto tentu menjadikan pengalaman yang berkesan. Daya tarik Tamansari membuat pengunjung tak terasa lelah. Apa saja daya tarik yang dimiliki Taman Sari ini? Simak dibawah ini

1. Sumur Gumuling

Ini merupakan lokasi favorit para pengunjung untuk berfoto. Disini juga sering digunakan untuk foto prewedding.  Walaupun namanya sumur, namun sebenarnya ini adalah sebuah bangunan mushola bawah tanah. Selain difungsikan sebagai mushola. Mushola bawah tanah ini memiliki desain yang unik. Berbentuk dua tingkat melingkar hingga 360 derajat, dengan bagian tengahnya berlubang. Di mushola ya ini terdapat sumur yang dikelilingi oleh lima buah tangga. Tangga yang berjumlah 5 ini melambangkan jumlah Rukun Islam.

2.Kolam Pemandian

Bagian menarik lain adalah kolam pemandian yang ada di Tamansari. Kolam-kolam pemandian  terdapat air mancur, dihiasi dengan ornamen bentuk seperti kepala naga dengan hiasan pot di sekelilingnya. Terdapat tiga buah kolam dengan nama dan fungsi yang berbeda-beda. Misalnya saja Umbul Pamucar, ini digunakan untuk para selir raja, Umbul Kawitan digunakan  untuk putra-putri raja. Sedangkan untuk Umbul Panguras kolam digunakan untuk raja.

Konon katanya, raja mengamati para saelir-selir yang sedang mandi dari sebuah menara yang letaknya berada dekat dengan Umbul Pamucar. Raja akan melemparkan bunga kantil kepada salah satu selir yang ada di umbul pamucar Ketika bunga kantil yang dilempar Raja mengenai salah satu selir, maka selir tersebut akan mendatangi Raja ke umbul panguras. Letak Umbul Pamucar dan Umbul Kawitan berada di dekat dengan pintu gerbang. Ketika raja, para selir, dan putra-putri raja sedang mandi dupa atau wewangian akan dinyalakan. Seluruh penjuru kolam pemandian akan harum. Disetiap kolam-kolam pemandian tersebut terdapat tempat untuk menyalakan dupa.

3. Bangunan Yang Menawan

Desain Taman Sari tergolong desain Yang menawan. Dihiasi dengan berbagai bangunan atau gapura yang terlihat sangat kokoh, serta memiliki simbol tertentu. Masih kokoh berdiri walaupun berusia ratusan tahun. Beberapa  kali mengalami kerusakan kemudian direnovasi. Bangunannya tetap tidak berubah dan masih kokoh. Gapura atau bangunan-bangunan tersebut diantaranya: Gapura Panggung, Gapura Agung, Gedung Kenongo, Terowongan atau lorong bawah tanah, dll.

Catatan Untuk Kunjungan Ke Tamansari

Tertarik mengunjunginya? Pastinya! Lokasi yang berada ditengah kota Jogja ini memudahkan anda mencari lokasinya. Tamansari ini sebenarnya dekat dengan kraton Jogja. Karena memang sebenarnya Tamansari merupakan bagian dari bangunan milik kraton. Hanya membutuhkan waktu 15 menit saja dari kraton untuk menuju area tamansari. Berjarak sekitar 300 meter sebelah barat kraton. Terletak di Jalan Tamanan, Patehan Keraton, Kota Yogyakarta.

Untuk menuju kesana, anda dapat menggunakan kendaraan umum ataupun pribadi. Akses untuk roda empat ke tempat ini juga mudah. Dari Alun-Alun selatan arahkan kendaraan anda ke arah barat melewati Jl. Patehan Lor. Setelah melewati jl Patehan lor, anda akan menemukan Jl. Tamanan. Lokasi Tamansari ini berada di jl Tamanan. Jika Sudah bertemu gerbang tamansari parkirkan kendaraan anda di lokasi yang sudah disediakan. Jangan lupa membeli ticket dulu sebelum masuk. Harga tiket masuk Taman Sari Jogja mulai tahun 2022 ini sebesar Rp 5.000 per orang untuk wisatawan lokal dan Rp 15.000 untuk wisatawan manca negara. Pengunjung yang membawa kamera profesional seperti DSLR akan dikenakan tarif sebesar Rp 3.000 per kamera.

Jangan terlalu pagi datang ke Tamansari. Karena jam buka/ operasionalnya Tamansari mulai pukul 09.00-15.00 WIB. Jika ingin lebih leluasa mengeksplore Tamansari, datanglah pada hari biasa, bukan weekend day. Kalau ingin lebih mengeksplor tentang sejarah Tamansari, guide/ pemandu wisata siap menemani. Lelah mengeksplore Tamansari, disekitar lokasi tersedia warung makan dan minuman. Toko souvenir juga banyak disana. Anda bisa memilih souvenir untuk oleh-oleh.

Di masa pandemi ini tetap gunakan prokes (protocol kesehatan). Memakai masker, rajin cuci tangan, atau selalu membawa hand sanitizer di tas. Menghindari kerumunan itu juga penting. Berwisata di musim pandemi memang membutuhkan kehati-hatian. Tidak perlu takut untuk berwisata. Karena berwisata juga salah satu untuk menaikkan imun. Oke, selamat berkunjung ke Water Castle.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *