Desa Wisata Pucung, Sentra Kerajinan Wayang Nan Cantik
Yogyakarta merupakan kota budaya yang banyak menyimpan ragam jenis kesenian. Salah satu seni budaya Yogyakarta adalah wayang kulit. Wayang kulit merupakan salah satu budaya Indonesia yang patut dilestarikan dari generasi ke generasi.
Yogyakarta sebagai kota yang concern terhadap pelestarian budaya memiliki daerah penghasil karajinan Wayang. Tepatnya di desa Pucung, yang menjadi Sentra kerajinan Wayang kulit. Desa Pucung ini terletak di kapenewon Imogiri, Kabupaten Bantul. Desa Pucung terkenal dengan dengan sentra industri wayang kulit sejak puluhan tahun lalu. Masyarakat desa Pucung mayoritas berprofesi sebagai pengrajin wayang kulit. Karena itulah desa Pucung dinobatkan sebagai Sentra Kerajinan Wayang Kulit oleh Pemerintah Kabupaten Bantul. Sejak tahun 1930an leluhurnya sudah menggeluti kerajinan wayang kulit ini.

Berkunjung ke desa Pucung, selain melihat kerajinan wayang anda juga bisa menikmati keindahan alamnya. , anda juga belajar membuat wayang kulit. Desa Pucung yang masih asri ini memiliki kontur alam berupa pegunungan. Keindahan alamnya yang masih asri, tersaji di Air Terjun Banyunibo. Lalu Gardu Pandang Puncak Petruk yang menyajikan pemandangan Kota Yogyakarta. Sebagai sentra kerajinan, Pucung juga menyajikan wisata edukasi tentang wayang. Disini wisatawan bisa belajar membuat wayang kulit tatah sungging. Tatah berarti memahat, sedangkan sungging artinya mewarnai. Jadi, tatah sungging adalah proses memahat dan mewarnai pada suatu media.
Di Pucung, media yang digunakan untuk membuat wayang ini berasal dari kulit sapi dan kerbau. Namun para perajin disini lebih senang menggunakan kulit kerbau. Kulit kerbau bisa digunakan untuk membuat wayang besar dan medium. Walaupun harga kulit kerbau lebih mahal dari kulit sapi para pengrajin di Pucung menggunakan kulit kerbau untuk kerajinan wayang. Karena kualitas wayang yang dihasilkan lebih bagus dan bisa tahan lama karena tidak mengandung banyak lemak. Proses pembuatan Wayang Kulit membutuhkan waktu relatif lama. Proses pembuatan satu tokoh wayang saja memerlukan waktu sekitar 1 minggu sampai 4 bulan. Tergantung pada ukuran dan tokoh yang dibuat. Pertama-tama melalui proses perendaman kulit. Kulit kerbau direndam selama 1 malam. Pada pagi harinya, kulit dikerok hingga halus kemudian dijemur hingga kulit kering. Proses berikutnya adalah pembuatan pola, atau membuat gambar diatas kulit yang sudah dikeringkan. Setelah pola gambar selesai dibuat, lalu proses selanjutnya adalah nyungging (pewarnaan). Pola gambar diwarna. Setelah itu, wayang diberi tangkai yang terbuat dari tanduk kerbau. Proses pembuatan yang memerlukan waktu paling lama adalah Gunungan. Karena detail gambar yang sangat rumit serta ukurannya yang lebih besar dari wayang yang lain.
Sejarah Kawasan Pucung
Ada sejarah bagaimana desa Pucung ini menjadi desa pengrajin wayang yang kondang. Berawal dari Mbah Atmo Karyo atau biasa disebut Mbah Glemboh. Mbah Gembloh adalah Lurah (kepala desa) Dusun Pucung pada tahun 1917. Dulu, untuk menjadi seorang lurah harus mendapatkan pelatihan dari panewon (kecamatan). Pelatihannya pun dibina langsung oleh Sultan Hamengkubuwono VII saat itu. Maka saat itu mbah Glemboh pun menjadi abdi dalem Keraton. Karena kedekatannya dengan Sultan, Mbah Glemboh kemudian diberi tugas untuk merawat dan menjaga wayang keraton. Tahun 1918, Mbah Glemboh tertarik membuat wayang sendiri. Dirumahnya, Mbah Gembloh belajar menatah wayang. Proses pembuatannya dibantu oleh empat orang tetangganya yaitu Mbah Reso Mbulu, Mbah Cermo, Mbah Karyo, dan Mbah Sumo. Menariknya, ketika wayang kulit buatan Mbah Glemboh hendak dibawa ke keraton, untuk diperlihatkan kepada Sultan. Ditengah perjalanan, Belanda tertarik melihat hasil karya Mbah Gembloh, lalu membeli semua wayang buatan Mbah Gembloh. Tak hanya orang Belanda saja yang tertarik dengan wayang Mbah Gembloh, pemilik salah satu toko batik terkenalpun juga tertarik. Pemilik toko batik ini kebetulan melihat wayang Mbah Gembloh, langsung tertarik. Ia membeli dan memajang wayang Mbah Glemboh ditoko batiknya.
Sampai tahun 1930, Mbah Glemboh masih membuat wayang bersama keempat temannya beserta anak-anak mereka. Lama kelamaan, wayang kulit Mbah Glemboh makin dikenal dan laris dibeli pelanggan. Banyaknya peminat wayang warga Pucung berinisiatif untuk ikut memproduksi tatah sungging wayang. Hingga sekarang, warga Pucung memproduksi wayang. Dengan 830 perajin dan 51 Industri Kecil dan Menengah (IKM). Dalam sebulan mampu memproduksi wayang kulit hingga produk lainnya berbahan kulit seperti kipas sampai gantungan kunci. Kualitas wayang kulit yang dihasilkan dibedakan halus, sedang dan kasar. Semakin halus kualitas wayang, akan semakin mahal harganya. Wayang kulit memiliki harga sekitar Rp 10 juta sampai ratusan juga rupiah. Biasanya pesanan khsusus berasal dari wisatawan atau penggemar wayang kulit dari luar negeri. Maka hasil karya perajin inipun diekspor ke Belanda, Australia, Jerman sampai Selandia Baru.
Apa saja yang ada di desa Pucung
Berbagai macam paket wisata disuguhkan di Desa wisata Pucung. Paket wisata untuk wisatawan, diantaranya paket wisata belajar membuat kerajinan wayang. Selanjutnya, wayang hasil buatannya bisa dibawa pulang sebagai cinderamata. Selain belajar wayang, paket wisata outbond di alam juga tersedia. Wisatawan juga dapat mengunjungi showroom untuk melihat hasil kerajinan wayang warga desa Pucung. Dibangun juga gasebo dan homestay di rumah penduduk. Gasebo sebagai tempat menyambut para wisatawan. Beberapa warga sekitar ada yang menyediakan fasilitas menginap bagi wisatawan domestik atau mancanegara. Tempat parkir juga mampu menampung bus berbadan besar. Kedepannya para warga (yang umumnya perajin wayang) berencana yang bersama-sama melengkapi fasilitas menginap dalam satu paket wisata. Dalam paket wisata ini terdiri dari kelas filosofi wayang, kelas memahat wayang, kelas mewarnai wayang, telusur kampung wayang, pertunjukan wayang. Terdapat juga kelas belajar gamelan, kegiatan trekking, edukasi tentang uba rampe janur, meracik wedang uwuh, dan masih banyak lagi lainnya. Untuk lebih menarik wisatawan warga berencana untuk membangun sentra pertunjukan wayang kulit atau pentas seni lainnya. Hal ini bertujuan agar wisatawan semakin nyaman berkunjung dan juga sebagai wisata edukasi. Selain wayang yang terbuat dari bahan kulit hewan, kerajinan wayang yang ada di desa Pucung juga menghasilkan icon para tokoh pewayangan yang berbahan dasar material lain, seperti besi, aluminium atau baja ringan. Untuk menjamin kepuasan konsumen yang berkunjung, Anda juga bisa memesan model dan ukuran sesuai yang diinginkan.
Saat ini wisata edukasi menjadi salah satu alternatif liburan favorit. Ada banyak desa wisata edukatif di setiap daerah di Indonesia. Dengan konsep wisata edukasi ini, banyak hal yang bisa didapatkan. Berlibur sekaligus belajar, menambah pengalaman. Anda bisa fresh dengan melihat pemandangan yang memanjakan mata berkat keindahan alam. Belajar melalui kearifaan lokal daerah tersebut. Belajar sejarah tentang seni kerajinan,juga pengalaman ketrampilan seni kerajinan wayang. Tertarik berkunjung ke desa Pucung? Rutenya mudah, dari kota Yogyakarta, menuju ke Jalan Imogiri Timur. Atau bisa dari Terminal Giwangan Yogyakarta lurus ke selatan kurang lebih sekitar 10 KM, melalui jl. Imogiri Timur. Setelah melewati jembatan besi, di sisi timur ada papan petunjuk menuju ke arah desa Wukirsari. Dari papan petunjuk tersebut belok ke kiri (timur), ikuti jalan tersebut. Anda akan dapati disepanjang jalan berupa hamparan sawah yang indah. Kemudian akan menemui papan petunjuk arah besar, menunjukan ke arah Batik Giriloyo dan Desa Wayang Pucung. Kita pilih arah ke Desa wayang pucung, ikuti saja jalan tersebut. Mudah bukan? Anda juga bisa mengunjungi Giriloyo, yang tak jauh dari Pucung dengan sentra batik. Selamat berwisata dan berbelanja.